Kamis, 03 Februari 2011

Badoo Gabungan Jejaring Sosial & Kencan Online Yang Lagi ngeTrend

Badoo.com , situs “kencan sosial” terbesar dan berkembang paling pesat di dunia, hari ini mengumumkan telah melampaui peristiwa penting 100 juta pengguna. Ia telah melakukannya dengan menciptakan baik jejaring sosial maupun kencan online, dengan membantu menciptakan kategori online baru “kencan sosial” – campuran jejaring sosial (seperti Facebook) dan kencan online “tradisional”.

Situs yang dimulai empat tahun lalu ini mendaftar hampir 10 juta pengguna baru setiap bulan, sehingga membuat Badoo jaringan sosial terbesar untuk mempertemukan orang-orang baru. Ia berharap dapat mencapai 200 juta pengguna tahun depan. Revolusi “kencan sosial” telah tiba!

Badoo adalah jejaring “kencan sosial” global, multi-bahasa, berbasis lokasi, yang berfokus pada chatting, menggoda dan bertemu orang baru. Ia sekarang juga meluncurkan aplikasi Facebook yang sukses besar – telah digunakan oleh 25 juta orang. Badoo menulis ulang aturan kencan dan pertemuan online. “Pergeseran terbesar dari “kencan perkawinan” ke “kencan sosial” atau “kencan santai,” kata Bart Swanson, COO Badoo.

Kedua, munculnya aplikasi geo-lokasi, yang mampu menentukan lokasi pengguna ponsel, dan penyebaran ponsel pintar berarti bahwa ada juga pergeseran dari kencan berdasarkan minat bersama ke kencan berdasarkan lokasi (“kencan dengan satnav”). Ketiga, ini mendorong pergeseran dalam cakrawala waktu – dari merencanakan sebuah tanggal dalam waktu sepekan ke tanggal dalam waktu satu jam, atau di sini dan sekarang.


“Kencan online tidak lagi tentang menemui pasangan masa depan,” ujar Swanson. “Ini tentang bertemu banyak orang dalam waktu singkat, dengan cana yang mudah, menyenangkan, dan santai.” Semua perubahan ini bergabung untuk menghapus stigma yang melekat sehubungan dengan kencan online. Kencan online, yang terlahir kembali sebagai “kencan sosial,” menjadi sesuatu yang semua orang lakukan. Badoo membuat keren kencan online.

FAKTA

Lebih dari 100 juta pengguna, di lebih dari 180 negara, 22 bahasa
Lebih dari 300.000 pengguna baru setiap hari.
Termasuk di antara 135 situs terkemuka dunia (Alexa.com)
Tujuh miliar kunjungan ke halaman setiap bulan.
Aplikasi kencan Facebook terbesar dan berkembang paling pesat di dunia: digunakan oleh 25 juta orang setiap bulan; di urutan keenam dalam 10 besar semua aplikasi Facebook

Remaja AS Temukan 'Senjata Death Ray'


Dulu, ilmuwan besar AS yang sempat menjadi asisten Thomas Alva Edison, Nikola Tesla, sempat mengajukan konsep senjata Death Ray yang sangat mematikan.
Namun, hingga Tesla meninggal, belum ada yang benar-benar menemukan prototipe Death Ray besutan Tesla, yang diklaim mampu menghancurkan obyek musuh dari jarak yang sangat jauh, tanpa bekas.
Seperti dilansir DailyMail, belum lama ini seorang remaja asal AS berhasil membuat sebuah senjata Death Ray dalam skala yang lebih kecil. Eric Jacqmain, pemuda 19 tahun asal Indiana AS, berhasil membuat sebuah alat yang ia namakan 'Solar Death Ray 5800'.
Ia memang memiliki konsep yang agak berbeda dengan Death Ray besutan Tesla, karena temuan Jacqmain tidak menggunakan elektromagnet, melainkan memanfaatkan kekuatan panas matahari.
Solar Death Ray terbuat dari antena parabola berbahan fiberglass, yang memiliki 5800 potongan cermin kecil yang mampu merefleksikan sinar matahari ke satu titik fokus yang sama.

Sayang, kini alatnya itu telah musnah. Sebuah kecelakaan yang tak disengaja, membuat alat itu menyebabkan kebakaran yang kemudian menghanguskan alat itu sendiri.
Namun, Jacqmain tak putus asa. Kini ia tengah mengembangkan Solar Death Ray lain yang berkekuatan lebih besar, yakni menggunakan 32 ribu reflektor kecil. Oleh karenanya, alat ini ia namakan 'Solar Death Ray 32K'.

Peneliti Italia: Mona Lisa Seorang Pria


Peneliti membuktikan bahwa hewan misterius yang sebelumnya disebut dengan ‘Egyptian jackal’ dan kadang dikira golden jackal, ternyata bukan merupakan sub spesies dari jackal (anjing hutan), melainkan serigala abu-abu (grey wolf).

Tim peneliti dari Wildlife Conservation Research Unit (WildCRU) Oxford University dan Addis Ababa University menyimpulkan bahwa serigala abu-abu muncul di Afrika sekitar tiga juta tahun lalu sebelum kemudian menyebar ke berbagai penjuru di utara Khatulistiwa.

Serigala spesies baru ini merupakan kerabat dari serigala abu-abu Holarctic, serigala India, dan serigala Himalaya.

“Ditemukannya spesies serigala di Afrika bukan hanya berita penting, akan tetapi juga memunculkan pertanyaan besar di dunia biologi,” kata David Macdonald, Director of WildCRU, seperti dikutip dari ScienceDaily, 4 Februari 2011.

Macdonald menyebutkan, bagaimana serigala Afrika bisa berkembang dan hidup berdampingan bersama dengan anjing hutan serta serigala Ethiopia yang sangat langka dan merupakan spesies yang sangat berbeda, perlu diteliti lebih lanjut.

“Temuan ini berkontribusi terhadap pemahaman kita tentang biogeografi dari fauna Afroalpine, sebuah himpunan spesies dengan nenek moyang Afrika dan Eurasia yang berkembang di kawasan yang relatif terisolasi di dataran tinggi Afrika,” ucap Claudio Sillero, peneliti dari WildCRU dan ketua Canid Specialist Group, IUCN.

Serigala Ethiopia sendiri merupakan imigran baru di Afrika. Mereka terpisah dari kelompok serigala abu-abu lebih dulu dibandingkan dengan serigala Afrika yang baru ditemukan ini.

Pada kesempatan tersebut, tim peneliti juga menemukan spesimen yang sangat mirip secara genetik dengan serigala baru ini di dataran tinggi Ethiopia, sekitar 2.500 kilometer dari Mesir. Temuan itu menandakan bahwa spesies baru tersebut tidak hanya tinggal di negeri itu.

Tampaknya, kata Sillero, nama Egyptian jackal sangat mendesak untuk diubah. “Dan statusnya yang unik sebagai satu-satunya serigala abu-abu di Afrika membuat namanya perlu diubah menjadi African wolf,” ucapnya.

“Penemuan ini juga menunjukkan bahwa teknik genetik bisa mengungkap biodiversitas yang tersembunyi di negara-negara yang jarang tersentuh eksplorasi seperti Ethiopia,” ucap Afework Bekele, profesor dari Addis Ababa University. (kd)

Heboh... Tanaman 'Bunglon' Bisa Berganti Warna


Bukan cuma bunglon yang bisa berganti warna kulit. Ternyata, tanaman pun kini bisa berubah warna sesuai dengan kondisi yang menaunginya.
Adalah June Medford, seorang pakar biologi dari Colorado State University, yang berhasil melakukan rekayasa genetik terhadap tanaman arabidopsis, sehingga tanaman tersebut bisa berganti warna.
Seperti dikutip dari situs PCWorld, tanaman hasil rekayasa Medford dan timnya, akan berubah warna dari hijau menjadi putih saat tanaman itu mendeteksi kehadiran unsur berbahaya di dekatnya, seperti obat terlarang, polutan, atau bahkan material eksplosif.
Awalnya, Medford menggunakan komputer untuk mendesain protein tanaman bernama reseptor. Kemudian, Medford memanfaatkan bakteri untuk memodifikasi reseptor tanaman tersebut.
Dengan struktur genetika yang telah dimodifikasi, maka reseptor tumbuhan bisa mendeteksi partikel-partikel bahan kimia berbahaya, polutan, bahan peledak, atau ancaman lain. Saat mendeteksi kehadiran zat-zat tersebut, tanaman akan mengirimkan sinyal, sehingga warna hijaunya berubah menjadi putih.
"Bila Anda membawa sesuatu ke bandara internasional Denver, misalnya sebuah bahan peledak, maka tanaman ini akan berubah warna menjadi putih. Ini akan memberikan keamanan bagi Anda," kata Medford, 52, kepada situs The Denver Post.

Kodok Tumbuhkan Gigi dalam 20 Juta Tahun


Gastrotheca Guentheri atau kodok pohon ternyata sangat unik. Dari seluruh spesies kodok yang ada saat ini, ia merupakan satu-satunya kodok yang memiliki gigi di rahang atas dan bawah.

Kembali ditemukannya gigi bawah pada kodok setelah ratusan juta tahun memunculkan perdebatan sengit seputar evolusi menghilangnya sesuatu bisa berlanjut dengan evolusi pemunculannya kembali.

Bukti baru yang ditemukan pada Gastrotheca guentheri juga menunjukkan bahwa ada celah pada teori yang digunakan sebelumnya.

“Kami mengombinasikan data dari fosil dan DNA dengan metode statistik terbaru. Ternyata, kodok kehilangan gigi di rahang bawah sekitar 230 juta tahun lalu,” kata John Wiens, ketua tim peneliti dari Stony Brook University, New York, seperti dikutip dari BBC, 1 Februari 2011.

Namun, pada laporannya yang dipublikasikan di jurnal Evolution, Wiens menyebutkan, dalam 20 juta tahun terakhir, spesies kodok Gastrotheca guentheri (G. guentheri) berhasil memunculkan kembali deretan gigi rahang bawah mereka yang hilang.

Sebelumnya, kalangan ilmuwan berpendapat bahwa hilangnya sesuatu selama evolusi tidaklah bisa dikembalikan. Teori ini disebut juga sebagai Dollo’s Law. Namun munculnya gigi bawah G. guentheri setelah lebih dari 200 juta tahun bisa membuat teori tersebut dipertimbangkan kembali.

“Hilangnya gigi bawah milik nenek moyang kodok modern dan kemunculannya kembali di kodok G. Guentheri menyediakan bukti kuat bahwa secara anatomi kompleks, sesuatu yang hilang akibat evolusi bisa muncul kembali,” kata Wiens. “Bahkan setelah lenyap selama ratusan juta tahun.”

Wiens yakin bahwa re-evolusi ini bisa dinilai sebagai celah pada Dollo’s Law. “Celah ini mungkin juga berlaku untuk kasus lain, misalnya munculnya kembali jari-jari milik kadal yang hilang,” ucap Wiens. (hs)

Malaysia Lepas Ribuan Nyamuk Demam Berdarah


Menurut laporan Institute for Medical Research (IMR), Kuala Lumpur, Malaysia, diam-diam sebanyak enam ribu ekor nyamuk transgenik, yang dikembangkan untuk melawan demam berdarah, dilepas pada 21 Desember lalu. Sama dengan pelepasan nyamuk yang telah dimodifikasi secara genetik di Karibia dan Cayman pada tahun 2009 dan 2010 lalu, pelepasan nyamuk tersebut mengejutkan banyak kalangan dan memicu pro-kontra.

Di Malaysia, nyamuk yang dibuat oleh Oxitec, sebuah perusahaan biologi asal Inggris itu merupakan nyamuk Aedes aegypti--nyamuk pembawa virus dengue penyebab penyakit demam berdarah--jantan yang dimandulkan. Saat nyamuk Aedes betina kawin dengan pejantan-pejantan mandul itu, mereka tidak punya keturunan. Harapannya, populasi nyamuk akan anjlok.

Penelitian yang dilakukan di sebuah kawasan terpencil di Bentong, Pahang, uji coba kali ini didesain untuk mengetahui sampai sejauh mana nyamuk tersebut mampu bertahan hidup dan menjelajah lingkungan.

“Sebanyak enam ribu nyamuk Aedes jantan dilepas untuk diuji coba daya tahannya terhadap lingkungan dan diteliti sampai sejauh mana ia mampu beredar,” kata Luke Alphey, Chief Scientific Officer Oxitec, seperti dikutip dari Sciencemag, 31 Januari 2011. “Penelitian itu sendiri sudah berakhir pada 5 Januari lalu setelah insektisida disemprotkan untuk mematikan nyamuk yang masih hidup."

Oleh sejumlah kalangan, pelepasan nyamuk ini dinilai tergesa-gesa dan terlalu dirahasiakan. Meski demikian, hal tersebut dibantah oleh Oxitec. “Penelitian ini dilakukan oleh pemerintah dan dilaksanakan di Malaysia. Jadi, terserah pemerintah apakah akan mengumumkannya atau tidak,” kata Alphey. “Siapapun yang menyadari bahwa ada 50 sampai 100 juta kasus demam berdarah dengue per tahun di seluruh dunia tentu akan merasakan betapa pentingnya penelitian ini."

Penelitian yang sama yang dilakukan di Grand Cayman tahun lalu sendiri jauh lebih besar skalanya. Di sana, sebanyak tiga juta nyamuk jantan dilepas untuk mengetahui apakah mereka bisa membantu menurunkan populasi nyamuk. Ternyata, dalam laporannya kemudian, populasi nyamuk bisa ditekan hingga 80 persen. “Hasil penelitian yang kami lakukan kali ini telah dikirimkan ke jurnal ilmu pengetahuan,” kata Alphey. (kd)

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Copyright 2011 Info Info Unik is proudly powered by blogger.com | Design by Tutorial Blogspot Published by Template Blogger